Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cerita Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah, Semut dan Cicak...

Abu Nawas Dua Ibu Yang Memperebutkan Bayi

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Dua Ibu Yang Memperebutkan Bayi, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Sudah beberapa hari ini terjadi kasus seorang bayi yang diperebutkan oleh dua orang ibu. Keduanya sama-sama mengakui bayi itu milik mereka. Hakim pun dibuat bingung untuk memutuskan siapa sebenarnya ibu dari bayi itu.

Karena kasusnya tak juga selesai, maka hakim menghadap Raja Harun Al-Rasyid untuk meminta bantuan. Raja pun ikut membantu. la memakai cara-cara yang halus untuk membujuk kedua perempuan tersebut. Siapa tahu salah satunya mau mengalah. Namun, kebijaksanaan Raja ini malah membuat kedua perempuan itu semakin berebut si bayi mungil. Raja pun menyerah. Raja pun memanggil Abu Nawas untuk memecahkan kasus ini. Abu Nawas datang menggantikan peran sang hakim. Tetapi, ia tidak langsung memutuskan kasus itu pada hari itu, melainkan menundanya sampai besok. Semua orang yang hadir di sana yakin bahwa Abu Nawas hanya menunda-nunda keputusan itu karena ia belum bisa memecahkan kasus tersebut. Padahal, penundaan itu disebabkan petugas keamanan yang tidak ada di tempat.

Esok hari, sidang pengadilan dibuka kembali. Abu Nawas memanggil petugas keamanan yang datang dengan pedang di tangan. Kemudian, Abu Nawas memerintahkan agar bayi itu diletakkan di atas meja.

“Apa yang akan kamu perbuat terhadap bayi itu?” kata kedua perempuan. Abu Nawas menjawab, “Sebelum aku mengambil tindakan, apakah salah satu di antara kalian bersedia mengalah dan menyerahkan bayi itu kepada yang berhak memilikinya. “Tidak, bayi itu adalah anakku,” kata kedua perempuan itu berbarengan. “Baiklah. Kalau kalian memang sungguh-sungguh menginginkan bayi itu dan tidak ada yang mau mengalah, maka aku terpaksa membelah bayi itu menjadi dua sama rata,” kata Abu Nawas mengancam. “perempuan pertama tertawa senang, sementara perempuan yang kedua menjerit-jerit histeris. “jangan, tolong jangan belah bayi itu. Biarlah aku rela bayi itu diserahkan kepada perempuan itu,” kata perempuan kedua. Abu Nawas tersenyum lega. Sekarang kebohongan salah satu dari mereka sudah terbuka. Abu Nawas segera mengambil bayi itu dan langsung menyerahkannya pada perempuan kedua tadi.

Akhirnya, Abu Nawas meminta agar perempuan pertama dihukum sesuai dengan perbuatannya. Ya, tak ada ibu yang tega menyaksikan anaknya disembelih. Apalagi di depan matanya sendiri. Raja pun merasa puas dengan keputusan Abu Nawas. Sebagai ucapan terima kasih, ia bermaksud mengangkat Abu Nawas menjadi penasihat hakim kerajaan. Namun, Abu Nawas menolak. la lebih suka menjadi rakyat biasa.

Hikmah
Sayangilah kedua orang tuamu, karena merekalah yang membesarkan dan mendidikmu hingga dewasa. Berkatalah dengan suara lembut, dan selalu meminta izin setiap ingin melakukan sesuatu.



Abu Nawas Telur Beranak

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Telur Beranak : Menipu Balik Tuan Tanah
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Telur Beranak : Menipu Balik Tuan Tanah, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Pada suatu sore, Abu Nawas duduk di beranda rumahnya sambil memandang langit. Abu Nawas berpikir bagaimana caranya agar sore itu keluarganya bisa dapat makan. Sementara itu, dalam jarak puluhan meter dari rumah Abu Nawas, seorang tuan tanah tinggal. Rumahnya mewah, lengkap dengan gudang makanan dan peternakan serta perkebunan yang luas. Hamppir semua warga di kampung itu, bahkan termasuk Abu Nawas, bekerja kepada tuan tanah tersebut. Namun, tuan tanah itu memiliki sifat yang kikir serta tamak. Tuan tanah itu mendengar berita bahwa Abu Nawas memiliki keahlian yang unik. Apabila meminjam sesuatu akan dikembalikan secara lebih dengan alasan beranak. Seperti meminjam seekor ayam, maka akan dikembalikan dua karena ayam itu beranak.

Tuan tanah lalu mencari cara agar Abu Nawas segera meminjam uang darinya. Kebetulan pada sore itu Abu Nawas ingin meminjam berupa tiga butir telur. Kontan saja tuan tanah senang bukan kepalang karena pinjaman itu akan menjadi banyak nantinya. Bahkan tuan tanah tersebut menawarkan pinjaman-pinjaman yang lain. Akan tetapi Abu Nawas menolaknya karena dia hanya butuh tiga butir telur itu saja. Saat tuan tanah menanyakan kapan telur itu akan beranak, Abunawas menjawab itu tergantung dengan keadaan.

Lima hari berlalu, Abu Nawas pun mengembalikan telur yang dipinjamnya dengan lima butir telur. Tuan tanah sangat senang dan dia menawarkan pinjaman lagi. Abu Nawas pun meminjam piring tembikar sebanyak dua buah dan tuan tanah itu dengan senang hati meminjamkannya dengan harapan piring tembikarnya beranak kayak telur ayam yang dulu. Lima hari pun berlalu lagi dan Abu Nawas mengembalikan piring tembikar sebanyak tiga buah.

Walaupun tidak sesuai dengan yang diharapkan, tetapi hati si Tuan tanah cukup gembira. Tak apalah piki tuan tanah karena bisa saja orang itu mempunyai anak tunggal bahkan tidak memiliki anak. Paada hari selanjutnya, si tuan tanah menawarkan pinjaman uang senilai 1000 dinar. Sebuah jumlah yang cukup besar, bahkan bisa untuk menggaji seluruh karyawan tuan tanah selama satu bulan.

Dia menanti dengan tidak sabar. Hari berganti hari bahkan lima hari terlewati sudah. Tak terasa sudah berjalan satu bulan dan Abu Nawas tak kunjung datang ke rumahnya. Karena tidak sabar, si tuan tanah mendatangi Abunawas dengan didampingi pengawalnya. Mulanya si tuan tanah gembira, namun dia marah besar setelah menerima penjelasan dari Abu Nawas. "Sayang sekali Tuan, uang yang saya pinjam, bukannya beranak, malah tiga hari setelah saya bawa pulang, mati mendadak," ujar Abu Nawas. Mendengar itu, si tuan tanah menjadi geram. Pengawalnya hampir saja memukul Abu Nawas, tapi untung saja tidak jadi karena ada rombongan pekerja yang baru pulang. Tuan tanah mengadukan Abu Nawas ke pengadilan dan berharap Abunawas digantung atau bahkan dihukum rajam.

Di depan hakim, Abu Nawas melakukan pembelaan dengan membeberkan semua duduk persoalannya. Demikian juga dengan si tuan tanah. Pengadilan pun memutuskan bahwa Abu Nawas tida bersalah karena sangat masuk akal kalau sesuatu yang bisa beranak pasti bisa mati. Seketika itu juga tuan tanah yang tamak itu pingsan selama beberapa jaman sulit untuk dibangunkan. Ia telah tertipu karena wataknya sendiri yang kikir, tamak dan pelit.