Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cerita Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah, Semut dan Cicak...

Abu Nawas Duduk di Singgasana Raja

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Duduk di Singgasana Raja, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Duduk di Singgasana Raja, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Kecerdikan Abu Nawas sudah diketahui oleh semua orang. Raja Harun Ar Rasyid pun mengakui kepandaian Abu Nawas dalam banyak hal. Raja sering meminta bantuan kepada Abu Nawas dalam menyelesaikan banyak masalah kenegaraan, hingga pribadi. Hingga pada akhirnya, sang raja berkeinginan mengajak Abu Nawas untuk tinggal bersamanya di istana. Abu Nawas diberi kebebasan untuk masuk istana, tanpa prosedur yang rumit. Dengan adanya Abu Nawas di istana, raja tidak bingung lagi ketika hendak meminta pendapat atau pun solusi darinya. Abu Nawas kini dijadikan sebagai penasehat raja.

Sekian lama tinggal di istana, timbul kebosanan di hati Abu Nawas. Ia tidak biasa dengan gaya hidup serba mewah. Berfoya-foya bukanlah kebiasaannya. Meski semua keinginannya disediakan, namun Abu Nawas tidak betah tinggal di istana. Ia ingin berada di luar istana. Abu Nawas rindu terhadap sawah ladangnya, hewan ternak, dan kampong halamannya.

Oleh karenanya, terbersit keinginan di hati sang Mullah untuk meninggalkan istana, dengan segala kemewahannya. Maka, sang Mullah memutar otaknya untuk menemukan cara keluar dari istana.

Hingga larut malam Abu Nawas akhirnya dapat memejamkan mata, mencari cara yang jitu. Mencari alasan yang tepat. Esok harinya, ia menuju ke ruang utama istana. Suasana ruangan masih sepi, hanya ada beberapa orang pengawal raja. Raja masih tidur di kasurnya. Abu nawas bergerak mendekati singgasana raja dan duduk di atas kursi raja. Tidak berhenti disitu. Bahkan, Abu Nawas mengangkat sebelah kakinya untuk ditaruh di atas kaki satunya. Abu Nawas berlagak seolah raja.

Melihat gelagak Abu Nawas yang dianggap tidak sopan ini, para pengawal segera menangkapnya. Tiada seorang pun yang boleh duduk di atas singgasana, kecuali baginda sendiri. Hal ini dianggap kejahatan besar, resiko hukuman mati bagi yang melanggarnya. Para pengawal menyeret Abu Nawas untuk turun dari singgasana tersebut, kemudian mereka memukulinya. Abu Nawas pun berteriak dan mengerang kesakitan, hingga membuat raja terbangun dan datang menghampirinya. "Hai pengawal, ada apa ini? Kenapa kalian memukuli Abu Nawas?" tanya raja. "Ampun, paduka. Abu Nawas telah berbuat lancang dengan duduk di atas singgasana tuanku, kami pun terpaksa memukulinya," jawab salah satu pengawal.

Sesaat kemudian, Abu Nawas mendadak menangis. Ia menangis histeris dan berteriak keras sekali sehingga seluruh penghuni istana mendengarnya. "Benarkah yang dituduhkan oleh pengawal kepadamu, hai Abu Nawas?" tanya Raja Harun. "Benar, tuanku," jawab Abu Nawas. Mendengar jawaban itu, raja terkejut. Menurut peraturan, siapa saja yang duduk di singgasana selain raja, akan diberi hukuman mati. Bagaimana pun, raja tidak tega terhadap Abu Nawas, mengingat jasa yang sangat banyak terhadap kerajaan. "Sudahlah, berhentilah menangis. Aku tidak bakalan menghukum engkau, Abu Nawas" ucap sang raja.

"Wahai, tuanku. Sebenarnya bukan kesakitan atau hukuman yang aku tangisi. Hamba menangis karena iba terhadap engkau, paduka" ucap Abu Nawas, hingga membuat raja tercengang. "Kenapa justru engkau merasa iba terhadapku?" tanya raja. Abu Nawas pun menjawab. "Wahai, tuanku. Hamba hanya duduk di singgasana sekali saja, namun mereka memukuliku dengan sangat keras. Tuanku telah mendudukinya selama 20 tahun. Pukulan sekeras apa, kelak akan paduka terima? Malang sekali nasib engkau, tuanku" jawab Abu Nawas.


Semua orang yang menyaksikan peristiwa itu tercengang dan bengong. Namun, raja faham maksud kata-kata Abu Nawas. Raja tidak menghukum Abu Nawas dengan hukuman mati, cuma mengeluarkannya dari lingkungan istana. "Baiklah, sekarang engkau boleh keluar dari istana ini" Ucap raja. "Terima kasih, tuanku. Akhirnya engkau mengerti keinginanku" sahut Abu Nawas seraya menjabat tangan Raja Harun dan pamit untuk segera keluar dari istana.




Abu Nawas dan Telor Onta

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Mengobati Penyakit Raja Menggunakan Telor Onta, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Mengobati Penyakit Raja Menggunakan Telor Onta, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Suatu ketika, raja Harun sedang menderita sakit. Meski para tabib dikerahkan untuk mengobatinya, penyakit beliau tak kunjung sembuh jua. Maka, sayembara berhadiah pun digelar. Siapa yang bisa mengobati raja, berhak mendapatkan hadiah besar. Ternyata Abu Nawas tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam sayembara ini.

Penyakit yang diderita oleh baginda, termasuk aneh. Beliau merasakan tubuhnya kaku dan terasa pegal di seluruh anggota badan. Suhu tubuh beliau panas dan tidak mampu untuk melangkahkan kakinya. Selera makan baginda hilang, dan sakit menjadi semakin parah. Raja Harun bukanlah seseorang yang mudah putus asa dan menyerah. Beliau punya tekad kuat untuk sembuh dari penyakitnya. Abu Nawas yang telah mendengar desas-desus perihal penyakit raja, berfikir keras dan memutar otaknya untuk mendapatkan cara pengobatan yang tepat. Bagaimana pun, akhirnya ia pergi juga ke istana.

Abu Nawas berjalan perlahan dan akhirnya tiba di istana. Raja terkejut melihat kedatangannya. "Abu Nawas, engkau memang seorang sastrawan hebat tapi bukan seorang tabib. Atas dasar apa, engkau hendak menyembuhkan penyakitku ini?" raja menyapa kedatangannya, sekaligus heran. Abu Nawas hanya tersenyum tulus, kemudian berusaha meyakinkan raja atas kemampuannya sebagai tabib. Awalnya sulit bagi raja menerima pengakuan Abu Nawas itu. Namun, bukan Abu Nawas kalau tidak mampu meyakinkan lawan bicara.

Kemudian Abu Nawas melakukan diagnosa, layaknya seorang tabib. "Apa keluhan tuan raja?" Tanya Abu Nawas, meniru gaya seorang tabib. "Aku tidak tahu penyebabnya, sekujur tubuhku terasa sakit dan panas. Aku merasa sangat lesu" tutur baginda. Abu Nawas langsung tertawa seketika, setelah mendengar keluhan baginda. Tentu saja, raja sangat tersinggung dengan sikap Abu Nawas. "Tenangkan diri anda, tuanku. Menurut hamba, penyakit seperti itu mudah sekali mengobatinya" Abu Nawas menjelaskan alasan ketawanya.

Raja menanyakan obat apa untuk menyembuhkan penyakitnya, dimana bisa diperoleh. "Obatnya adalah sebutir telur unta, tuanku. Telur tersebut ada di kota baghdad" Abu Nawas memberi keterangan. Raja yang ingin segera sembuh dari penyakitnya itu, sangat antusias mendengar keterangan yang diberikan oleh Abu Nawas. Esok harinya, raja beserta pengawalnya berangkat untuk mencari obat yang dimaksud. Agar tidak mengundang perhatian rakyat, raja dan para pengawal mengenakan pakaian biasa. Raja dan pasukannya mendatangi seluruh pasar yang ada di kota Baghdad. Sekeras apa pun usaha mereka, telur unta yang dimaksud tidak didapat. Raja tetap bersikeras mencarinya, meski seluruh pasukan mulai merasa kelelahan. Raja kelihatan menggerutu, serta punya rencana memberi hukuman kepada Abu Nawas jika telur unta tidak juga ditemukan.

Akhirnya raja menyerah, dan memutuskan untuk kembali ke istana. Namun, di tengah perjalanan nampak seorang lelaki tua yang sedang membawa ranting kayu. Raja menyapanya. "Sebentar kek, saya ingin menanyakan sesuatu hal" raja mencegah kakek tersebut. Setelah melihat wajah kakek, raja merasa iba. Beliau menawarkan diri untuk membawakan ranting-ranting kayu hingga ke rumah lelaki tua itu. Sesampainya di rumah kakek tua, raja mulai basa-basi. Merasa cukup dengan basa-basi, raja mulai bertanya perihal telur unta. "Mana ada telur unta?" si kakek tertawa lebar, setelah berfikir. Kakek tua memberi penjelasan, tiada telur unta di bagian dunia mana pun. Semua hewan yang punya daun telinga tidak bertelur, tapi beranak. Termasuk unta, karena ia termasuk hewan yang punya daun telinga.

Raja beserta pasukannya tersentak kaget. Raja marah besar, karena merasa bahwa Abu Nawas telah mempermainkannya. Esok harinya, Abu Nawas dipanggil untuk menghadap ke istana. "Abu Nawas, alangkah beraninya engkau mempermainkan rajamu! Mana ada unta bertelur?" raja merasa kesal luar biasa. "Benar, tuanku. Unta memang tidak mengeluarkan telur" jawab Abu Nawas, ringan. Mendengar jawaban Abu Nawas, raja segera memerintahkan kepada pengawal untuk menghukum Abu Nawas. Hukuman yang sangat berat! "Tunggu, tuanku raja. Sebelum hamba menerima hukuman, bolehkah say bertanya sesuatu hal?" ucap Abu Nawas. "Apa itu?" tanya raja penasaran. "Bagaimana kondisi kesehatan tuanku?" tanya Abu Nawas. "Tubuhku segar bugar, tidak lemas dan pegal lagi" jawab baginda. "Itu artinya, saya telah berhasil mengobati penyakit paduka. Sesuai yang tuanku janjikan, saya berhak memperoleh hadiah dari sayembara ini" Ucap Abu Nawas dengan gembira.

Raja melongo mendengar ucapan Abu Nawas. Bagaimana pun, beliau menyadari kenyataan ini. Beliau sembuh lantaran mengikuti arahan dari Abu Nawas. Sambil tersenyum, beliau mencabut hukuman kepada Abu Nawas. Tak lupa, beliau memberi hadiah kepada Abu Nawas sesuai janjinya.