Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cerita Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah, Semut dan Cicak...

Tips Dan Cara Memilih Playgroup Yang Baik Bagi Anak

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Tips Dan Cara Memilih Playgroup Yang Baik Bagi Anak , Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Orang tua harus melihat kesiapan anak secara mental. Karena menurut Sani, Psi, anak harus merasa nyaman dengan lingkungan baru. "Jangan hanya ikut-ikutan melihat tetangga akhirnya menyekolahkan balita. Karena dengan memasukkan balita playgroup, anak tanpa sadar dilatih untuk mandiri. Dan hal itu perlu kesiapan mental yang baik," katanya. Maka, sebelum memilih sekolah untuk anak balita, inilah beberapa hal yang sebaiknya dipertimbangkan.

Untuk balita yang sudah belajar bicara dianggap oleh Sani, Psi, sudah cukup matang untuk masuk playgroup. Ibu, juga harus melihat apakah anak memang sudah membutuhkan playgroup di usianya yang dini. Karena pada usia balita, anak masih banyak bermain dengan lingkungan terdekat, seperti lingkungan di rumah. Banyaknya pilihan playgroup atau Taman Kanan-Kanak bisa membuat Ibu bingung. Berikut hal yang perlu menjadi pertimbangan sebelum Ibu akhirnya memutuskan untuk memilih sekolah untuk anak.

Fasilitas Sekolah
Perhatikan fasilitas yang diberikan sekolah, seperti kebersihan toilet, sarana bermain, ruang kelas, ruang makan, sirkulasi ruangan sampai dengan fasilitas antar jemput. Tanyakan pula rasio perbandingan staf pengajar dan murid dalam satu kelas. Untuk usia balita yang aktif bergerak tentu saja perlu pengawasan lebih dari staf pengajar.

Anak Bermain dan Belajar
Untuk playgroup sebaiknya Ibu memperhatikan kurikulum yang diberikan. Untuk usia balita-batita, pilihlah playgroup yang memberikan kesempatan anak untuk bermain dan eksplorasi dengan rasa ingin tahunya. Carilah playgroup yang bisa merangsang tumbuh kembang anak bukan pada kemampuan akademik. Tetapi melatih kepekaan serta empati anak, mengajarkan tentang kerjasama, dan cara mengendalikan emosi.

Perhitungkan Jarak Tempuh
Hal penting yang harus kamu jadi pertimbangan adalah jarak tempuh playgroup dengan tempat tinggal. Karena menurut Sani, Psi, jarak tempuh yang jauh dan berisiko macet akan membuat anak tidak nyaman selama perjalanan. Ingat, dunia anak adalah dunia bermain. Jangan sampai anak harus mengejar waktu dan merasa kelelahan karena mengalami kemacetan saat menuju sekolah. Sani, Psi, menyarankan untuk Ibu memilih sekolah yang relatif dekat dengan rumah. Karena lebih banyak hal positif jika playgroup mudah dijangkau dari rumah.

Mencari Informasi
Saat memilih sekolah jangan tergesa-gesa ya Bu. Karena kamu perlu melakukan survey kecil dan mencari informasi sebanyak mungkin tentang playgroup yang akan dipilih. Carilah informasi dari pengalaman ibu yang menyekolahkan anak di playgroup tersebut. Ibu bisa mencari melalui internet atau mengunjungi langsung playgroup. Luangkan waktu untuk bisa melihat aktivitas di playgroup tersebut dan catatlah beberapa poin untuk menjadi bahan referensi.

Keluarga Sebagai Pembentukan Kepribadian Anak

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Keluarga Sebagai Pembentukan Kepribadian Anak, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Keluarga Sebagai Pembentukan Kepribadian Anak, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Keluarga dengan pembentukan kepribadian sangat berkaitan erat. Keluarga merupakan wadah pembentukan kepribadian. Proses pembentukan kepribadian seseorang terjadi dalam keluarga. Keluarga menjadi titik sentral ketika seseorang membicarakan tentang kepribadian. Kepribadian apa pun yang melekat pada seseorang dipengaruhi oleh keluarganya.

Pengertian kepribadian adalah ciri watak seorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang mandiri. Kepribadian seseorang merupakan ciri khas yang dimiliki oleh seseorang. Kepribadian seseorang tercermin dalam tingkah laku, tindak tanduk, dan cara berpikir seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Pembentukan Karakter Sejak Usia Dini
Pembentukan kepribadian seseorang biasanya terjadi semenjak orang tersebut dilahirkan ke dunia ini. Para ahli telah menyepakati bahwa tahap-tahap awal kehidupan seseorang menjadi suatu moment atau waktu yang terpenting. Penting karena pada tahap-tahap awal ini menjadi waktu ketika seseorang meletakkan dasar-dasar kepribadian bagi dirinya. Dasar-dasar kepribadian ini nantinya akan memberikan warna bagi kehidupannya kelak ketika sudah dewasa.

Pada usia dini pula anak mulai membentuk dasar kemampuan penginderaan, dan berpikir secara sederhana. Pembelajaran tentang moral atau tentang baik buruk juga terjadi pada saat usia dini. Oleh sebab itu, sikap, kebiasaan, dan perilaku anak yang dibentuk pada tahun-tahun awal sangat menentukan sejauh mana seorang anak dapat beradaptasi (menyesuaikan diri) pada lingkungan sosial. Hal ini juga menentukan pula sejauh mana seseorang dapat menjalani kehidupan secara baik dan harmonis ketika seseorang telah mencapai usia dewasa nanti. Usia dini menjadi tahap ketika seseorang mendapatkan rangsangan yang tepat. Karena pada usia dini ini seorang anak otaknya mengalami pertumbuhan. Seorang ibu atau orang tua mempunyai peranan penting dalam memberikan rangsangan yang baik bagi anaknya ini. Pola asuh orang tua kepada anaknya ini menentukan pola bagaimana sikap dan perilaku anak nantinya. Karena rangsangan yang diberikan oleh orang tua sejak usia dini menjadi pengalaman yang akan membentuk kepribadian anak.

Pola Asuh dalam Membentuk Kepribadian
Dalam sebuah keluarga, anak pertama kali belajar tentang sesuatu dari orang tuanya. Peran orang tua untuk membina dan mengasuh anak menjadi sangat penting. Orang tua menjadi tempat pertama pembelajaran anak. Apa yang dilakukan oleh orang tua, anak akan memperhatikannya. Kemudian, anak menirukan. Bila orang tua sering bertindak halus, penuh kasing sayang, dan menghargai orang lain, anak pun akan belajar hal tersebut. Sebaliknya, jika orang tua sering berbuat kasar, anak pun lambat laun akan meniru tingkah laku tindakan kasar yang biasa dilakukan oleh orang tua.

Peranan orang tua adalah memenuhi kebutuhan anak. Caranya dengan memberikan kasih sayang yang tulus, perhatian, rasa aman, dan kebutuhan lain terhadap anak. Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan anak di usia dini dapat tercapai. Pemenuhan kebutuhan kasih sayang, perhatian, dan sebagainya ini mempunyai manfaat yang paling penting bagi anak. Oleh sebab itu, pola asuh orang tua terhadap anak mempunyai peran penting dalam membentuk kepribadian anak. Seorang pakar anak bernama Diana Baumrinde mengemukakan tiga macam pola asuh anak, yaitu pola asuh yang otoriter (authoritaria), membolehkan (permissive), dan seimbang (authoritative).

Pola Asuh yang Otoriter (Authoritaria)
Pola asuh yang otoriter adalah pola asuh yang dilakukan oleh orang tua kepada anak yang menekankan pada kontrol. Orang tua sangat menginginkan anaknya mutlak patuh kepadanya. Mereka menginginkan anaknya mematuhi segala peraturan yang ada di keluarga. Jangan sampai sedikitpun peraturan keluarga itu dilanggar. Apabila seorang anak secara sengaja atau tidak sengaja melanggar peraturan yang ada di keluarga, sanksi berat pun segera menghadang. Hukuman yang diterima anak atas kesalahan yang dilakukan biasanya dibuat sedemikian rupa agar anak kembali menuruti segala keinginan dan perintah orang tua. Hukuman yang diberikan oleh orang tua yang otoriter kepada anaknya membuat anak mejadi takut, minder, menarik diri dari pergaulan. Selain itu, anak juga menjadi kurang percaya kepada orang lain. Pikirannya akan selalu diliputi rasa was-was dan tidak aman. Hal ini tentunya membuat kehidupan anak menjadi kurang baik yang pada akhirnya terbawa sampai ketika dewasa. Maka, tidak mustahil jika anak dibesarkan pada lingkungan yang otoriter, kepribadian anak menjadi kurang baik, murung, berontak, dan mungkin juga kasar.

Pola Asuh yang Membolehkan (Permissive)
Pola asuh yang membolehkan (permissive) adalah pola asuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak dengan cara memberikan kebebasan berekspresi dan mengatur diri sendiri. Anak dibiarkan untuk mempunyai sebanyak mungkin kegiatan. Orangtua bukanlah pemberi kegiatan atau tugas. Anak sendirilah yang mencari kegiatan dan tugas sendiri dalam keluarga. Bila anak melakukan kesalahan terhadap peraturan yang ada di keluarga anak jarang dihukum. Bila ada hukuman tidak terlalu berat. Jika anak melanggar dari kegiatan yang ia kerjakan, orang tua tidak memberikan hukuman. Sikap orang tua biasanya hangat, tidak menuntut, tidak mengontrol, tidak memaksa, dan memberikan kebebasan kepada anak. Jika seorang anak dibesarkan di dalam keluarga yang pola asuh yang membolehkan, biasanya anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang matang, kurang mampu menahan diri atau mengontrol diri.

Pola Asuh yang Seimbang (Authoritative)
Pola asuh seimbang (authoritative) adalah pola asuh yang dilakukan orang tua kepada anaknya dengan cara menghargai anak tapi juga menekankan pentingnya aturan dalam keluarga. Jadi, ada keseimbangan antara penghargaan kepada anak dan peraturan keluarga. Anak tidak diatur sedemikian rupa agar sangat patuh pada orangtua. Akan tetapi, anak juga tidak dibiarkan bebas. Ada peraturan yang mengatur kehidupan anak sehari-hari dalam keluarga. Peraturan ini bukanlah penghukuman yang ditekankan, tetapi pembelajaran anak agar anak mampu menerapkan peraturan dangan benar. Ketika anak melakukan kesalahan tidak lantas omelan yang menghadangnya. Nasihat-nasihat yang baik dan menyejukkan yang keluar dari mulut orang tuanyalah yang diterima baik oleh anak. Hukuman tidak begitu ditekankan agar anak tidak menjadi penakut. Anak tetap diberikan ekspresi yang wajar dan dibatasi oleh norma dan aturan yang ada. Tapi bukan berarti anak tidak boleh kreatif mengembangkan diri. Justru anak dituntut agar mampu mengembangkan diri sesuai dengan tahapan umur dan perkembangan otaknya.

Anak tidak dituntut untuk hal-hal yang kemungkinan anak tidak mampu mencapai. Akan tetapi, anak dibimbing dan dibina dalam menapaki kehidupan secara benar. Ada keseimbangan antara kewajiban dan hak dia sebagai seorang anak dalam keluarga. Orangtua memberikan kasih sayang dan perhatian yang membuat anak menjadi pribadi yang kuat dan berkarakter baik.

Perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh orangtua membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, hangat, menyenangkan, dan dapat dipercaya. Keluarga membuat ia menjadi pribadi yang merasa aman dan bahagia. Orangtua dan keluarga menjadi sumber inspirasi bagi kehidupannya kelak ketika dia dewasa. Pola asuh yang seimbang inilah yang merupakan pola asuh yang sangat dianjurkan di banyak keluarga. Baca Juga Tips Cara Mudah Menghafal Bagi Anak