Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cerita Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah, Semut dan Cicak...

Pentingnya Mengasuh Anak Cerdas Dan Kreatif

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Tips Cara Mengasuh Anak Yang Baik Dan Benar, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita. Tak ada yang salah dengan upaya mencetak anak cerdas dan kreatif. Persoalannya, sampai di mana upaya-upaya tersebut bermanfaat bagi anak? Selain itu, persoalan berikutnya, sampai sejauh mana anak dapat mengikuti tanpa merasa terpaksa sehingga akhirnya justru tidak produktif dan menjadi masalah di kemudian hari?

Jangan lupa juga, secara alamiah, usia kanak-kanak adalah saat untuk bermain. Bermain juga penting untuk melatih fisik, emosi, imajinasi, dan kreativitas anak. Sayang sekali apabila ibu sampai melarang anak bermain semata karena "program anak cerdas dan kreatif".

"Mencetak" anak cerdas dan kreatif juga berarti ibu harus berperan aktif. Memang, anak yang kreatif tidak aakn jadi dengan sendirinya, melainkan harus diarahkan. Namun, di sisi lain, kreativitas -yang mensyaratkan kebebasan- tidak akan berkembang apabila anak tidak diberi kesempatan. Kebebasan tanpa batas dapat berakibat buruk dan justru tidak menunjang kreativitas. Sebaliknya, disiplin kaku tanpa toleransi berpotensi mematikan kreativitas anak. Oleh karena itu, kebebasan dan disiplin harus dimainkan secara serasi agar anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

Kreativitas
Imajinasi adalah kata kunci kreativitas. Menurut para ahli, potensi kreativitas itu mulai meningkat pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4,5 tahun. Kemudian, potensi itu akan segera menurun pada saat masuk sekolah dasar. Oleh karena itu, upaya perangsangan kreativitas pada usia prasekolah menjadi sangat penting. Ada banyak cara untuk mengembangkan kreativitas anak. Di rumah, ibu dapat melakukannya, misalnya dengan membiarkan anak mengatur kamar tidurnya sendiri. Sedangkan di sekolah, dapat dilakukan dengan mengembangkan cara belajar-mengajar yang mendorong anak untuk aktif. Cara-cara belajar yang mengandalkan metode hafalan atau memaksa anak untuk mengikuti berbagai kursus justru merusak kreativitas dan imajinasi anak.

Anak bermain bagi banyak ibu dianggap sebagai "pemborosan waktu". Dalam pandangan mereka akan lebih baik jika waktu untuk bermain itu dipakai untuk kegiatan belajar yang tidak mengandung unsur permainan. Anggapan ini sangat keliru, karena bermain bagi anak bukanlah sekadar untuk mengisi waktu senggang. Seorang pakar bahkan mengingatkan, jika kebebasan bermain tersebut dihambat, pada masa selanjutnya daya kreatif, daya imajinasi, bahkan kemampuan belajar anak bakal mengalami hambatan yang serius.

Musik, olahraga, dan berbagai kegiatan yang melibatkan gerakan lainnya banyak menentukan perkembangan anak untuk masa depan. Banyak ibu hanya peduli dengan hasil akhir, tanpa tahu bagaimana proses belajar terjadi. Hal itu yang mengakibatkan pengajaran hal yang bersifat kreatif, misalnya musik, sama seperti mengajar ilmu-ilmu lain. Padahal, jika diajarkan dengan benar, dapat meningkatkan daya imajinasi da pemahaman anak.



Cara Mengasuh Anak Yang Baik Dan Benar

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Tips Cara Mengasuh Anak Yang Baik Dan Benar, Fokus, dan Logika Balita, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu juga Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Orang tua perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan. Ilmu pengasuhan ini dapat Anda peroleh dari berbagai sumber, seperti seminar atau artikel di majalah dan buku-buku. Pada dasarnya, ada enam pilar penting dalam pengasuhan anak, demikian menurut Hanny Muchtar Darta, saat peluncuran sekaligus bedah bukunya, Six Pillars of Positive Parenting, di arena Islamic Book Fair, Istora Senayan, Jakarta, Selasa (8/3/2011). Hal ini yang belum diketahui orangtua pada umumnya.

"Tanpa disadari, masih banyak orangtua yang menerapkan pola asuh atau pendekatan negatif dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sebagai orangtua saya mengusahakan untuk belajar. Saya belajar untuk anak-anak saya, termasuk mempelajari enam pilar dalam mendidik anak-anak. Ini juga berdasarkan pribadi saya sebagai orangtua," ungkap Hanny.

Kemitraan atau kerja sama antara ayah dan ibu (partnership parenting)
Orangtua harus belajar bekerja sama dengan baik, terutama dalam mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak. Jangan sampai ada perbedaan pendapat dalam mengajarkan kedisplinan dan norma-norma kehidupan. Dengan demikian, anak akan mematuhi bimbingan orangtua karena melihat baik ayah maupun ibunya sepakat memberikan pandangan yang sama.

Belailah, bicaralah, bermain, dan berpikir (4B)
Hanny memaparkan hasil penelitian Dr Harold Voth, psikiater dari Kansas, Amerika, mengenai unsur belaian. Berapa kali belaian yang Anda berikan pada anak setiap harinya akan memengaruhi tumbuh-kembangnya. Misalnya, empat belaian pada anak dalam sehari bisa membuat anak selalu survive. Delapan belaian sehari dapat mendukung masa tumbuh anak. Sedangkan 12 belaian akan membuat anak sehat secara fisik maupun emosi. Fungsi belaian ini pun berlaku bagi pasangan suami-istri. Belaian mampu mengusir depresi, membuat kita awet muda, tidur lebih nyenyak, dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Kemudian Hanny menganjurkan orangtua untuk menjalin komunikasi dengan anak. Komunikasi dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan membacakan buku untuk anak dan menanyakan pendapatnya mengenai isi buku itu.

Selain ngobrol, orangtua juga harus menyempatkan waktu untuk mengajak anak bermain dengan melibatkan fisik. Pada kesempatan bermain, peran ayah jauh lebih besar untuk mengajak anak melakukan kegiatan seperti olahraga maupun melakukan permainan lain. Tak hanya bermain secara fisik, anak juga harus diajarkan bermain dengan menggunakan ekspos pikiran. Hal ini membantu anak untuk mengelola alam pikirannya. Latihan berpikir juga membantu anak mengomunikasikan apa yang dipikirkannya karena belum tentu pikiran anak dan orangtua sama.

Kedisiplinan, dan terapkan aturan secara konsisten
Aturan tidak harus selalu dibuat oleh orangtua. Contohnya dalam menyepakati jam belajar. Anak dan orangtua bisa berdiskusi, berapa jam yang dibutuhkan anak untuk mengulang pelajaran sekolahnya. Orangtua menunjukkan cinta kasih tetapi tetap dengan ketegasan.

Memahami emosi negatif anak sejak dini
Ketika anak kita sedih dan menangis, tanyakan mengapa ia sedih, atau apa yang membuatnya menangis. Kita coba pahami perasaan anak untuk memperbaiki emosi-emosi negatifnya," ujar Hanny.

Gaya bahasa positif agar anak sehat secara fisik dan emosional
Pada bagian ini, Hanny mengutip pernyataan dari Task Force for Personal and Social Responsibilities di Amerika yang menjelaskan bahwa setiap harinya orang mendengarkan 432 kata dan kalimat negatif, dan hanya 32 kata dan kalimat positif. Sebanyak 80 persen kata-kata tersebut menyakitkan, memberikan dampak psikologis yang buruk, dan tidak memotivasi orang untuk bangkit. Sisanya, 20 persen orang bertahan meskipun mendengar kata-kata tersebut. Oleh karena itu, orangtua perlu belajar untuk tidak marah secara berlebihan, apalagi mengancam anak.

Terapkan pola asuh tanpa hukuman
Ternyata hukuman saja tidak membuat anak mampu melakukan perubahan positif. Orangtua sepatutnya memberikan kebebasan pada anak, bukan dalam arti kebebasan penuh, melainkan membiarkannya memilih konsekuensi dari tindakan yang dilakukannya. Dengan demikian anak bisa memetik pelajaran atas apa yang sudah dilakukannya. Selain memaparkan tentang pilar-pilar pengasuhan anak, buku ini juga membeberkan hasil penelitian para ahli dan serangkaian cerita-cerita tentang keluarga.