Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Cerita Dongeng Fabel Kuda, Kancil dan Gajah, Semut dan Cicak...

Abu Nawas Hamil dan Hendak Melahirkan

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas Hamil dan Hendak Melahirkan, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Sultan Harun Al-Rasyid masygul berat, konon, penyebabnya sudah tujuh bulan Abu Nawas tidak menghadap ke Istana. Akibatnya, suasana Balairung jadi lengang, sunyi senyap. Sejak dilarang datang ke Istana, Abu Nawas memang benar-benar tidak pernah muncul di Istana. “Mungkin Abu Nawas marah kepadaku,” pikir Sultan, maka diutuslah seorang punggawa ke rumah Abu Nawas. “Tolong sampaikan kepada Sultan, aku sakit hendak bersalin,” jawab Abu Nawas kepada punggawa yang datang ke rumah Abu Nawas menyampaikan pesan Sultan. “Aku sedang menunggu dukun beranak untuk mengelurkan bayiku ini,” kata Abu Nawas lagi sambil mengelus-elus perutnya yang buncit.

“Ajaib benar,” kata Baginda dalam hati, setelah mendengar laporan punggawa setianya. “Baru hari ini aku mendengar kabar seorang lelaki bisa hamil dan sekarang hendak bersalin. Dulu mana ada lelaki melahirkan. Aneh, maka timbul keinginan Sultan untuk menengok Abu Nawas. Maka berangkatlah dia diiringi sejumlah mentri dan para punggawa ke rumah Abu Nawas.

Begitu melihat Sultan datang, Abu Nawas pun berlari-lari menyamabut danm menyembah kakinya, seraya berkata, “Ya tuanku Syah Alam, berkenan juga rupanya tuanku datang ke rumah hamba yang hina dina ini.” Sultan dipersilahkan duduk di tempat yang paling terhormat, sementara Abu Nawas duduk bersila di bawahnya. “Ya tuanku Syah Alam, apakah kehendak duli Syah Alam datang ke rumah hamba ini? Rasanya bertahta selama bertahun-tahun baru kali ini tuanku datang ke rumah hamba,” tanya Abu Nawas.

“Aku kemari karena ingin tahu keadaanmu,” jawab Sultan, “Engkau dikabarkan sakit hendak melahirkan dan sedang menunggu dukun beranak, sejak zaman nenek moyangku hingga sekarang, aku belum pernah mendengar ada seorang lelaki mengandung dan melahirkan, itu sebabnya aku datang kemari.”

Abu Nawas tidak menjawab, ia hanya tersenyum. “Coba jelaskan perkatanmu. Siapa lelaki yang hamil dan siapa dukun beranaknya,” tanya Sultan lagi. Maka dengan senang hati berceritalah Abu Nawas. “Knon, ada seorang raja mengusir seorang pembesar istana. Tetapi setelah lima bulan berlalu, tanpa alasan yang jelas, sang Raja memanggil kembali pembear tersebut ke Istana, ini ibarat hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian hamil tanpa menikah. Tentu saja itu melanggar adat dan agama, menggegerkan seluruh negeri.

Lagi pula apabila seorang mengeluarkan titah, tidak boleh mencabut perintahnya lagi, jika itu dilakukan, ibarat menjilat air ludah sendiri, itulah tanda-tanda pengecut. Oleh akrena itu harus berpikir masak-masak sebelum bertindak. Itulah tamsil seorang lelaki yang hendak bersalin, adapun dukun beranak yang ditumggu, adalah baginda kemari,” baginda kemari kata Abu Nawas, adapun beranak yang ditunggu kedatangan Baginda kemari, “kata Abu Nawas.” Dengan kedatangan baginda kemari, berarti hamba sudah melahirkan, yang dimaksud dengan bersalin adalah hilangnya rasa sakit atau takut hamba kepada Baginda.”

“Bukan begitu, kata Sultan. “Ketika aku melarang kamu datang lagi ke istana, itu tidak sungguh-sungguh, melainkan hanya bergurau. Besok datanglah engkau ke istana, aku ingin bicara denganmu. Memang di sana banyak mentri, tetapi tidak seperti kamu. lagipula selama engkau tidak hadir di istana, selama itu pula hilanglah cahaya Balairungku”. “Segala titah baginda, patik junjung tinggi tuanku,” sembah Abu Nawas dengan takdzim. Tetapi Sutan cuma geleng-geleng kepala. Dan tidak seberapa lama kemudian Sultan pun kembali ke Istana dengan perasaan heran bercampur geli….

Air Susu yang Pemalu
Suatu hari Sultan Harun Al-Rasyid berjalan-jalan di pasar. Tiba-tiba ia memergoki Abu Nawas tengah memegang botol berisi anggur. Sultan pun menegur san Penyair, “Wahai Abu Nawas, apa yang tengah kau pegang itu?” Dengan gugup Abu Nawas menjawab, “Ini susu Baginda.” “Bagaimana mungkin air susu ini berwarna merah, biasanya susu kan berwarna putih bersih,” kata Sultan keheranan sambil mengambil botol yang di pegang Abu Nawas. “Betul Baginda, semula air susu ini berwarna putih bersih, saat melihat Baginda yang gagah rupawan, ia tersipu-sipu malu, dan merona merah.” Mendengar jawaban Abu Nawas, baginda pun tertawa dan meninggalkannya sambil geleng-geleng kepala.



Abu Nawas dan Syair Jelek

Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Syair Jelek, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.
Cerita Dongeng Indonesia adalah Portal Edukasi yang memuat artikel tentang Hikayat Abu Nawas dan Syair Jelek, Dongeng Anak Indonesia, Cerita Rakyat dan Legenda Masyarakat Indonesia, Dongeng Nusantara, Cerita Binatang, Fabel, Hikayat, Dongeng Asal Usul, Kumpulan Kisah Nabi, Kumpulan Cerita Anak Indonesia, Cerita Lucu,Tips Belajar, Edukasi Anak Usia Dini, PAUD, dan Balita.

Permaisuri Raja Harun Al Rasyid memiliki dua orang putra. Al Amin adalah nama putra pertama, sedangkan putra kedua diberi nama Al Makmun. Al Amin adalah putra yang sangat bodoh dan pemalas. Sedangkan saudaranya, yaitu Al Makmun ternyata seorang anak yang rajin dan pandai di berbagai cabang ilmu, terutama sastra.

Baginda Raja sangat menyayangi Al Makmun. Hal ini dikarenakan kecerdasan dan kepintaran yang dimiliki oleh putranya tersebut. Namun bagi permaisuri, ini dianggap tidak adil. Menurut permaisuri, tidak boleh berat sebelah (pilih kasih). Kedua anak harus mendapat kasih sayang yang sama. Dan lagi, keduanya merupakan putra raja dari ibu yang sama dan dari Ayah yang sama (sekandung).

"Suamiku, mengapa engkau hanya menyayangi Al Makmun saja, tidak kepada Al Amin juga?" tanya Zubaidah, Permaisuri sang Raja. "Sebab ia tidak pandai bersyair dan tidak mahir dalam sastra," jawab sang raja. "Dengarkan suamiku, jika mau, Al Amin dapat lebih menguasai ilmu sastra daripada Al Makmun. Sesungguhnya ia lebih cerdas, cuma malas saja,". Ucap sang Permaisuri "Besok aku akan panggil Abu Nawas untuk membuktikan perkataanku, menguji kepandaian anakku dalam bersyair," Gumam sang Permaisuri dalam hati.

Setelah shalat subuh, Abu Nawas sudah berada di istana untuk memenuhi panggilan sang permaisuri. "Abu Nawas, dengarkan syair putraku ini, apa menurutmu dia mahir?" Ucap sang permaisuri dengan penuh bangga. Kemudian Al Amin membaca beberapa bait syair, "Kami merupakan keturunan Bani Abbas, kami duduk di atas kursi."

Mendengar syair tersebut, Abu Nawas hampir tidak kuat untuk menahan tawa. "Apa syairku bagus, Abu Nawas?" tanya Al Amin kepada Abu Nawas. "Syair macam apa itu?" jawab Abu Nawas sambil menahan tawanya, dan sakit di perutnya. Al Amin sangat marah mendengar cemoohan Abu Nawas tersebut. “Prajurit, jebloskan ia ke dalam penjara!”. Perintah sang pangeran kepada pengawal istana.

Raja tidak mengetahui kejadian tersebut, merasa heran. Kemana Abu Nawas, lama tidak kelihatan di istana? Raja merasa rindu akan kehadiran Abu Nawas. Biasanya ia mampu menghibur hati, dapat melenyapkan penat dengan candaan maupun kecerdikannya. Akhirnya, raja mengetahui keberadaan Abu Nawas. Raja mendengar bahwa ia telah dimasukkan ke dalam penjara oleh salah satu puteranya. Raja mengajak Al Amin untuk pergi ke penjara, menjenguk Abu Nawas. "Kenapa kamu memenjarakan Abu Nawas?" tanya Baginda raja kepada sang putera "Ia telah mencemooh dan menertawakan karyaku, ayahanda," jawab Al Amin. "Itu berarti syairmu memang jelek. Abu Nawas itu ahli sastra, bisa menilai keindahan sebuah syair" kata Raja menasehati putranya. "Baiklah, beri saya kesempatan untuk memperindah syairku," ucap Al Amin sambil beranjak pergi, meninggalkan Ayahnya.

Beberapa hari, Al Amin menyiapkan syair untuk diperdengarkan kepada Raja dan semua orang istana. Setelah merasa siap, Al Amin mengutarakan maksudnya. Ia ingin agar Raja mengadakan pertemuan untuk menguji karyanya. Hari yang ditentukan telah tiba. Raja, Abu Nawas, dan beberapa orang penyair terkenal sudah ada di istana. Permaisuri sudah tidak sabar untuk mendengar syair karya putranya. Sekaligus mendengar komentar Abu Nawas dan para penyair. Al Amin pun mulai membaca syairnya. "Wahai binatang yang sedang duduk bersimpuh, kurasa tidak ada yang setolol engkau, kau seperti hidangan yang diolesi dengan minyak sapi kental, juga seperti warna seekor kuda belang."

Mendengar syair itu, Abu Nawas segera bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari tempatnya. "Mau kemana engkau, wahai Abu Nawas?" tanya raja Harun Al Rasyid. "Aku lebih suka masuk ke penjara saja daripada mendengar syair tadi. “Sama saja kalau ditunda, akhirnya saya akan dimasukkan ke penjara lagi olehnya jika saya berkomentar”. Abu Nawas menambahkan.

Raja tak kuasa untuk tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya, mendengar jawaban Abu Nawas. Bahkan sampai keluar air mata. Sedangkan sang permaisuri, Zubaidah hanya bengong tak mampu mengeluarkan kata-kata.